26 Juli

Kesibukan Malaikat di Bulan Ramadhan

 

ramadhan

Meski Ramadhan telah berlalu di tahun ini, namun tidak ada salahnya kita mengulas lagi tentang kesibukan para malaikat di bulan yang mulia ini.

Surga selalu dihias dan diberi harum-haruman dari tahun ke tahun karena masuknya bulan Ramadhan. Pada malam pertama Ramadhan itu, muncullah angin dari bawah Arsy yang disebut al Mutsirah. Karena hembusan al Mutsirah ini, daun-daunan dari pepohonan di surga bergoyang dan daun-daun pintunya bergerak, sehingga menimbulkan suatu rangkaian suara yang begitu indahnya. Tidak ada seorang atau mahluk apapun yang pernah mendengar suara seindah suara itu, sehingga hal itu menarik perhatian para bidadari yang bermata jeli.
Mereka berdiri di tempat tinggi dan berkata, “Apakah ada orang-orang yang melamar kepada Allah, kemudian Allah akan mengawinkannya dengan kami??”

Tidak ada jawaban dan penjelasan apapun, maka para bidadari itu bertanya kepada malaikat penjaga surga, “Wahai Malaikat Ridwan, malam apakah ini?”

Malaikat Ridwan berkata, “Wahai para bidadari yang cantik jelita, malam ini adalah malam pertama Bulan Ramadhan!!”
Para bidadari itu berdoa, “Ya Allah, berikanlah kepada kami suami-suami dari hamba-Mu pada bulan ini!!”

Maka tidak ada seorangpun yang berpuasa di Bulan Ramadhan (dan diterima puasanya) kecuali Allah akan mengawinkannya dengan para bidadari itu, kelak di dalam kemah-kemah di surga.

Kemudian terdengar seruan Firman Allah, “Wahai Ridwan, bukalah pintu-pintu surga untuk umat Muhammad yang berpuasa pada bulan ini.

Wahai Malik (Malaikat penjaga neraka), tutuplah pintu-pintu neraka untuk mereka yang berpuasa bulan ini.

Wahai Jibril, turunlah ke bumi, kemudian ikatlah setan-setan yang jahat dengan rantai-rantai dan singkirkan mereka ke dasar lautan yang dalam, sehingga mereka tidak bisa merusak (mengganggu) puasa dari umat kekasih-Ku, Muhammad!!”

Para malaikat itu dengan segera melaksanakan perintah Allah tersebut. Itulah sebabnya di dalam Bulan Ramadhan itu kebanyakan umat Islam sangat mudah untuk berbuat amal kebaikan. Suatu hal yang sangat sulit untuk diamalkan pada bulan-bulan lainnya.

Gangguan setan (dari kalangan jin) dan hawa panas neraka untuk sementara ditiadakan, hawa sejuk surga yang penuh rahmat dan kasih sayang Allah melimpah ruah membangkitkan semangat untuk terus beribadah kepada-Nya. Musuh yang harus dihadapi tinggal gangguan setan dalam bentuk manusia dan hawa nafsu, yang mereka itu juga telah dilemahkan dengan adanya kewajiban puasa.

Pada riwayat lain disebutkan, pada malam pertama Bulan Ramadhan itu Allah berfirman, “Barang siapa yang mencintai-Ku maka Aku akan mencintainya, barang siapa yang mencari-Ku maka Aku akan mencarinya, dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya berkat kehormatan Bulan Ramadhan ini (dan puasa yang dijalankannya) !!”

Kemudian Allah memerintahkan malaikat Kiramal Katibin (malaikat-malaikat pencatat amalan manusia) untuk mencatat amal kebaikan dari tiga kelompok orang-orang tersebut dan menggandakannya, serta memerintahkan untuk membiarkan (tidak mencatat) amal keburukannya, bahkan Allah juga menghapus dosa-dosa mereka yang terdahulu.

Pada setiap malam dari Bulan Ramadhan itu, Allah akan berseru tiga kali, “Barang siapa yang memohon, maka Aku akan memenuhi permohonannya. Barang siapa yang kembali kepada-Ku (Taa-ibin, taubat) maka Aku akan menerimanya kembali (menerima taubatnya). Barang siapa yang memohon ampunan (maghfirah) atas dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya…!!”

Pada malam yang ditetapkan Allah sebagai Lailatul Qadr, Allah memerintahkan Jibril dan rombongan besar malaikat untuk turun ke bumi. Jibril turun dengan membawa panji hijau yang kemudian diletakkan di punggung Ka’bah. Ia mempunyai 600 sayap, dua di antaranya tidak pernah dipergunakan kecuali pada Lailatul Qadr, yang bentangan dua sayapnya itu meliputi timur dan barat. Kemudian Jibril memerintahkan para malaikat yang mengikutinya untuk mendatangi umat Nabi Muhammad SAW. Mereka mengucapkan salam pada setiap orang yang sedang beribadah dengan duduk, berdiri dan berbaring, yang sedang shalat dan berdzikir, dan berbagai macam ibadah lainnya pada malam itu. Mereka menjabat tangan dan mengaminkan doa umat Nabi Muhammad SAW hingga terbit fajar.
Ketika fajar telah muncul di ufuk timur, Jibril berkata, “Wahai para malaikat, kembali, kembali!!”

Para malaikat itu tampaknya enggan untuk beranjak dari kaum muslimin yang sedang beribadah kepada Allah. Ada kekaguman dan keasyikan berada di tengah-tengah umat Nabi Muhammad SAW, yang di antara berbagai kelemahan dan keterbatasannya, berbagai dosa dan kelalaiannya, mereka tetap beribadah mendekatkan diri kepada Allah, tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Mendengar seruan Jibril untuk kembali, mereka berkata, “Wahai Jibril, apa yang diperbuat Allah untuk memenuhi permintaan (kebutuhan) orang-orang yang mukmin dari umat Nabi Muhammad ini?’
Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah melihat kepada mereka dengan pandangan penuh kasih sayang, memaafkan dan mengampuni mereka, kecuali empat macam manusia…!”
Mereka berkata, “Siapakah empat macam orang itu?”
Jibril berkata, “Orang-orang yang suka minum minuman keras (khamr, alkohol, narkoba dan sejenisnya), orang-orang yang durhaka kepada orang tuanya, orang-orang yang suka memutuskan hubungan silaturahmi, dan kaum musyahin!!”

Para malaikat itu cukup puas dengan penjelasan Jibril dan mereka kembali naik ke langit, ke tempat dan cara ibadahnya masing-masing seperti semula.
Ketika Nabi SAW menceritakan hal ini kepada para sahabat, salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah kaum musyahin itu?”
Nabi SAW bersabda, “Orang yang suka memutuskan persaudaraan, yaitu orang yang tidak mau berbicara (karena perasaan marah, dendam dan sejenisnya) kepada saudaranya lebih dari tiga hari!!”

Malam berakhirnya bulan Ramadhan, yakni saat buka puasa terakhir dan memasuki malam Idul Fitri, Allah menamakannya dengan Malam Hadiah (Lailatul Jaa-izah). Ketika fajar menyingsing, Allah memerintahkan para malaikat untuk turun dan menyebar ke seluruh penjuru negeri-negeri yang di dalamnya ada orang-orang yang berpuasa. Mereka berdiri di jalan-jalan dan berseru, dengan seruan yang didengar oleh seluruh mahluk kecuali jin dan manusia, “Wahai umat Muhammad, keluarlah kamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, yang memberikan rahmat begitu banyak dan mengampuni dosa yang besar!!”
Ketika kaum muslimin keluar menuju tempat-tempat shalat Idul Fitri dilaksanakan, Allah berfirman kepada para malaikat, “Wahai para malaikat-Ku, apakah balasan bagi pekerja jika ia telah menyelesaikan pekerjaannya??”
Mereka berkata, “Ya Allah, balasannya adalah dibayarkan upah-upahnya!!”
Allah berfirman, Wahai para malaikat, Aku persaksikan kepada kalian semua, bahwa balasan bagi mereka yang berpuasa di Bulan Ramadhan, dan shalat-shalat malam mereka adalah keridhaan dan ampunan-Ku!!”

 


Baca juga: Prestasi iblis

23 Juli

Prestasi Terbesar Iblis

salah jalan oleh iblis

Iblis merupakan musuh yang nyata bagi kita. Hendaknya kita selalu waspada akan godaan iblis dan bala tentaranya.Godaan ini bisa secara terang-terangan, bisa juga secara halus sehingga kita terlena dan tidak menyadarinya. Berikut adalah artikel salah satu prestasi terbesar bagi iblis.

Prestasi Terbesar bagi Iblis adalah Merusak Keluarga. Dan Keluarga Muslim adalah Bidikan Utamanya...

“Dari Jabir, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda, “Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka ada yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan ini.’ Iblis berkomentar, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Datang yang lain melaporkan, ‘Saya menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah bepisah (talak) dengan istrinya.’ Kemudianl iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.'” (HR. Muslim 2813).

Faidah hadits:

1. Dalam hadis ini, iblis memuji dan berterima kasih atas jasa tentaranya yang telah berhasil menggoda manusia, sehingga keduanya bercerai tanpa sebab yang dianggap dalam syariat. Ini menunjukkan bahwa perceraian suami istri termasuk diantara perbuatan yang disukai iblis.

2. Iblis menjadikan singgasananya di atas laut untuk menandingi Arsy Allah Ta’ala, yang berada di atas air dan di atas langit ketujuh.

3. Pada dasarnya talak adalah perbuatan yang dihalalkan. Akan tetapi, perbuatan ini disenangi iblis, karena perceraian memberikan dampak buruk yang besar bagi kehidupan manusia. Terutama terkait dengan anak dan keturunan. Oleh karena itu, salah satu diantara dampak negatif sihir yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an adalah memisahkan antara suami dan istri. Allah berfirman,
“Mereka belajar dari keduanya (harut dan marut) ilmu sihir yang bisa digunakan
untuk memisahkan seseorang dengan istrinya.” (QS. Al-Baqarah: 102).




Artikel lainnya: Khalifah Umar dan Sungai Nil

16 Juli

Kisah Umar dan Sungai Nil

Kisah Umar dan Sungai Nil
 
 
sungai

Inilah kisah seorang pemimpin yang bahkan sungai pun mendengarkan perintahnya dengan izin Allah SWT. Ia adalah sosok pemimpin yang sangat tawadhu' kepada Allah, sangat tegas dalam Urusan Agama Allah dan Ia adalah sahabat Rasulullah SAW yang mendapat Ilham dari Allah SWT seperti disabdakan oleh Nabi SAW :
"Sungguh orang-orang sebelum kalian dari Bani Isra'il ada yang diberikan Ilham walaupun mereka bukan Nabi, jika ada salah seorang dari umatku yang mendapatkannya maka Umarlah orangnya."

Dan berikut kisahnya :

Kami mendapatkan riwayat dari jalur Ibnu Lahi'ah dari Qais bin Hajjaj dari seseorang yang pernah mengisahkan padanya, orang itu berkata, "Ketika Mesir ditaklukkan, penduduknya mendatangi Amr bin al-'Ash tepat ketika masuk bulan Bu'unah yang merupakan salah satu bulan penanggalan orang Akan. Mereka berkata, "Wahai Amr, sungai Nil kami ini memiliki tradisi yang dengannya arus sungai ini bisa mengalir." Amr bertanya, "Apa tradisi itu?" Mereka menjawab, "Lewat 12 malam dari bulan ini, biasanya kami akan mencari seseorang perawan dari kami akan mengambilnya dari kedua orang tuanya, kami berusaha agar keduanya merelakan anaknya tersebut kami bawa. Setelah itu kami akan menghiasnya dengan berbagai perhiasan dan pakaian yang paling indah, setelah itu kami akan korbankan dirinya dengan mencampakkannya ke sungai tersebut." Amr menjawab, "Tradisi ini tidak akan mungkin terulang dalam Islam. Sesungguhnya Islam akan meruntuhkan segala tradisi sebelumnya." Akhirnya mereka tidak berbuat apa-apa sejak bulan Bu'unah, Abib dan Masra sementara air sungai Nil tidak sedikit pun mengalir, hingga penduduk Mesir telah bersiap-siap untuk eksodus. Akhirnya Amr menulis surat kepada Umar dan memberitakan kejadian tersebut. Umar membalas surat Amr dan berkata, "Sesungguhnya kebijakan yang kau ambil sudah tepat, dan aku telah mengirimkan bersana surat ini sebuah lembaran. Maka campakkanlah lembaran ini ke Sungai Nil."

Sesampainya surat itu, Amr segera mengambil kartu tersebut, dan ternyata di dalamnya tertulis :

_"Dari hamba Allah Umar bin al- Khattab kepada Sungai Nil milik penduduk Mesir. Amma ba'du, jika engkau mengalir karena dirimu dan atas keinginanmu sendiri, maka tidak usah kau mengalir dan kami tidak membutuhkanmu tetapi jika engaku mengalir karena perintah Allah Yang Maha Esa dan Perkasa, Sebab Dia-lah yang membuatmu mengalir, maka kami memohon kepada Allah agar membuatmu mengalir."_

Maka segera Amr mencampakkan kartu itu ke sungai Nil. Tepat di pagi hari sabtu Allah telah mengalirkannya dan permukaan air bertambah sebanyak 16 hasta dalam satu malam, dan Allah telah merubah tradisi jahiliyah mereka di Mesir sehak tahun itu hingga hari ini.


Artikel lain:

Mendidik Keluarga

12 Juni

Menjaga Keluarga di Era Akhir Jaman (Bagian 2)

 Menjaga Keluarga di Era Akhir Jaman (Bagian 2)

 

menjaga keluarga

 Ini adalah bagian kedua dari dua bagian. Selamat membaca.

Ada 6 poin petunjuk Nabi bagi umatnya di Era Fitnah Akhir Zaman ini, dan poin pertama adalah fokus pada keluarga. Maka di catatan kedua ini kita akan membahas makna dari Fokus Pada keluarga.

FOKUS PADA KELUARGA

Jika kita ingin membenahi masyarakat mulailah dari bagian terkecil dari masyarakat itu yaitu KELUARGA. Kembalilah berfokus pada keluarga kita, membentuk visi misi keluarga Muslim, dimana visi dan keluarga Muslim tidak hanya mencakup dunia tapi juga sampai ke akhirat.

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.  Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya".(Qs.52:21)

Dari ayat di atas kita ketahui pada keimanan tidak hanya mengumpulkan keluarga di dunia tetapi juga di akhirat. Sehingga Tarbiyah imaniyah berjalan dalam kelurga muslim karena satu-satunya yang menghubungkan antar keluarga adalah keimanan mereka. Bahkan bisa dikatakan keluarga hanya jika mereka telah berkumpul di surga.

Untuk meraih visi misinya, Keluarga Beriman harus memiliki program utama yaitu :

1. Memelihara keluarga kita dari api neraka.
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66:6)

Umar bin Khattab  berkata bahwa saat turun ayat ini, ia bertanya kepada Rasulullah 'Kami akan jaga diri kami, lalu bagaimana dengan keluarga kami?' , Rasulullah menjawab, 'larang mereka apa yang Allah telah larang dari-Nya, kamu perintah mereka dengan apa yang Allah telah perintah dari-Nya, jika itu kau lakukan, akan menyelamatkan mereka dari neraka.

Sebagai seoang suami yang merupakan pemimpin dalam keluarga, maka merupakan kewajibannya sebagai qowwam untuk mencegah keluarga masuk ke neraka. karena ancaman bagi sebagai pemimpin sangat luar biasa yaitu :
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS. Al-Ahzab : 66-68).

Tentunya para suami tidak mau di akhirat digugat oleh anak dan istri mereka sendiri.

2. Totalitas dan saling mengingatkan di dalam kebaikan.
Suami mengingatkan istri dan anak, begitu juga sebaliknya.
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 9:71) Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang besar. (QS. 9:72)".

Struktur kepatuhan manusia beriman adalah jelas yaitu Allah dan Rasulnya. Ketaatan kepada Allah dan Rasulnya adalah mutlak dan tanpa bersyarat. Baru kemudian menaati ulil amri (pemimpin), dengan syarat jika pemimpin mengajak kepada jalan Allah.  "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. An-Nisa : 59)

3. Mencontoh keluarga-keluarga Muslim yang telah diceritakan dalam Al Qur'an dan hadist :
* Kisah Keluarga Ibrahim dan anaknya Ismail
* KisahKeluarga Musa bersama Ibu dan saudara perempuannya
* Kisah Nabi Yusuf menghadapi saudara-saudaranya
* Kisah Keluarga Lukman al Hakim
*Kisah Keluarga Rasulullah Muhammad SAW.
Serta kisah keluarga-keluarga lain yang dikisahkan dalam AlQur'an dan AsSunnah.

 

Semoga kita semua termasuk hamba yang selamat. Aamiin.

Menjaga Keluarga di Era Akhir Jaman (Bagian 1)

 Menjaga Keluarga di Era Akhir Jaman

 
menggandeng keluarga
Sebagai umat pilihan akhir jaman, tentu kita harus waspada dan senantiasa siap untuk menjaga keluarga. Di jaman seperti ini, fitnah bertebaran dimana-mana, terutama fitnah dalam hal agama. Oleh sebab itu menjaga keluarga untuk selalu beriman menjadi sangat penting.

Ada 5 babak kehidupan umat islam hingga akhir zaman, seperti yang telah dikabarkan oleh Rasulullah SAW. Setiap fase berubah berganti sesuai dengan bergantinya karakter para pemimpin di zamannya. Dan kita telah sampai pada babak ke-4, satu fase menuju akhir babak kehidupan umat Islam.

Ya, kita telah sampai di babak ke-4 dalam sejarah umat islam. Babak ini adalah era fitnah, zaman dimana badai fitnah datang terus menerus kepada umat Islam.
Di masa ini yang perlu kita waspadai adalah perkara-perkara yang dapat membatalkan keimanan(nawaqidhul iman) kita. Dipagi hari seorang masih dalam keadaan beriman,lalu menjadi Kafir pada sore harinya. Mereka adalah orang yang menjual agama demi kenikmatan dunia. Sungguh di masa ini sangat mudah kita jumpai manusia-manusia tersebut.

PENTUNJUK NABI BAGI UMATNYA DI AKHIR ZAMAN

Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Amru bin Al Ash ia berkata, "Saat kami berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau menyebutkan tentang fitnah. Beliau bersabda: "Jika kalian melihat manusia telah rusak janji-janji mereka dan telah luntur amanah mereka, sementara mereka begini -beliau menganyam antara jemarinya-," Abdullah berkata, "Aku lantas bangkit ke arah beliau seraya bertanya, "(Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu) apa yang harus aku lakukan pada saat itu?" beliau menjawab: "Tetaplah engkau berdiam di dalam rumahmu, kuasailah lisanmu, ambilah (lakukan) apa saja yang kamu ketahui dan tinggalkan apa saja yang kamu pungkiri (tidak ketahui), urusilah perkaramu sendiri dan jauhilah urusan orang banyak."

Dari hadist di atas setidaknya ada 6   poin yang harus kita terapkan dalam keluarga kita di era fitnah akhir zaman ini :
1. Tetaplah engkau di rumahmu (fokus pada keluarga)
2. Kuasailah lisanmu
3. Kerjakan yang kamu ketahui
4. Tinggalkan yang kamu pungkiri
5. Urus perkara khusus dirimu sendiri
6. Tinggalkan perkara umum.

(1) FOKUS PADA KELUARGA
mengapa di mulai dari keluarga, karena kelurga adalah bagian terkecil dari masyarakat. Ketika kita ingin membenahi masyarakat maka itu dimulai dari membenahi keluarga.
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang di perintahkan".(66:6)

"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kamu sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia".(13:11)

Adapun ciri-ciri Keluarga Beriman di Era Fitnah antara lain :
1. Memahami makna Iman-Tauhid.
2. Menjaga Al mahabbah Wa Al ukhuwah Fillah (cinta dan persaudaraan karena Allah)
3. Mewaspadai berbagai fitnah di sekeliling, yang mengancam terutama terhadap iman dan tauhid
4. Memiliki wawasan ilmu mengenai hari akhir
5. Menyadari hadirnya konflik abadi dan hakiki sepanjang sejarah Bani Adam
6. Memastikan kehalalan nafkah
7. Selalu taqarrub, bertaubat dan berdoa kepada Allah SWT.

Bersambung

11 Juni

Tentang Menyusui Anak Dalam Islam

 Tentang Menyusui Anak Dalam Islam



Merupakan kodrat bagi seorang ibu untuk memberikan asi kepada anaknya setelah melahirkan. Di dalam agama Islam, hal tentang menyusui juga dibahas.

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama DUA TAHUN penuh yaitu bagi yang ingin MENYEMPURNAKAN penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang maruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya, dan seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum 2 tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al baqarah: 233)


Dengan dasar perintah Allah dalam ayat tersebut maka kami menggenapkan ASI untuk putra kami Salman selama dua tahun, dan dengan dasar itu pula maka kami mulai menyapih di usia dua tahun. Dua tahun yang dimaksud di sini adalah dalam hitungan tahun hijriyah (kalau dihitung dalam kalender masehi dua tahun kurang dua puluh dua hari). Maka saat memasuki usia itulah pembelajaran saya sebagai Ibu kembali diuji dan begitu pula salman,inilah momen pembelajaran yg harus kami lalui.

    Menyusui adalah syari'at begitu pun menyapih adalah syari'at islam.

Adapun jika kita melaksanakan sesuai dengan panduan nash dalam AlQur'an maka kita mendapatkan keutamaan dan pahalanya.
Memang tidak diharamkan menyusui lebih dari dua tahun karena hukum asal semua perkara dunia adalah mubah.


Namun kembali lagi maka jika ingin mendapatkan keutamaannya maka menyapih saat usia tepat dua tahun lebih utama.
Dan pun diperbolehkan kurang dari itu jika terjadi hal yang dhorurot sehingga ibu tidak bisa lanjut menyusui sang anak.


Tentu islam mengajarkan berlemah lembut dan berkasih sayang terhadap anak. Maka memutus masa penyusuan atau penyapihan tentulah tiba tiba-tiba, ada proses sebelum masuk usia dua tahun. Salah satunya dengan dialog iman, atau bisa juga yang ibu-ibu lain pakai istilah sounding dahulu, mengurangi intensitas menyusui sebelum masuk usia dua tahun untuk proses pembiasaan, tidak memakai cara berbohong pada anak. Sehingga yang dilakukan harus dengan cara-cara yang ahsan.

ada riwayat dari seorang tabi’in (murid sahabat) larangan menyusui lebih dari 2 tahun:

"Dari Ibrahim, bahwa Alqamah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menyusui bayinya setelah 2 tahun, maka ia berkata: “Jangan kamu susui ia setelah itu”.

Larangan beliau di sini bukanlah pengharaman akan tetapi menyusui 2 tahun lebih utama karena itulah nash dari AlQur'an.

Namun pendapat saya secara pribadi bahwa menyapih tepat diusia dua tahun adalah salah bentuk pengajaran ketaatan kepada Anak, agar Anak mengenal RabbNya dan mengetahui perintah RabbNya sehingga ia bisa mulai belajar bahwa ketika syari'at turun tugas kita adalah sami'na wa atho'na. Bertemu dan berpisah karena Allah ini adalah salah satu hikmah masa penyusuan dan penyapihan.

Pada proses penyapihan salman. Sebelum masuk usia dua tahun kami sudah mulai sounding kepada salman kalau sebentar lagi dia akan disapih, jadi sekitar dua bulan sebelumnya saya sudah mulai mengurangi intensitas menyusui, agar saat tiba masanya dia tidak mengalami kesulitan. Saya dan suami sepakat tidak memakai cara-cara yg biasa dipakai para orang tua kita zaman dahulu dan sekarang pun masih banyak yang memakai cara tersebut karena dinggap ampuh,contonya seperti memakai pahit - pahitan, atau mengolesi payu dara ibu dengan warna seperti darah dan yang lainnya.

Kenapa semua harus dengan kesepakatan bersama suami?, karena suami adalah qowwam atau bisa dibilang seperti kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan utama dalam rumah tangga, jadi keputusan menyapih pun harus ketok palu dari suami juga.
Maka setalah berunding dengan suami, kami memutuskan memakai metode wwl(weaning with love) plus dialog iman. Jadi memakai dua jurus , yaitu CINTA dan IMAN.

Maksud dari metode WWL adalah tidak melakukan kebohongan, paksaan, dan tipuan ke anak. Nah, kalau dalam wwl anak dibiarkan sampai dia mau melepaskan sendiri masa menyusunya, maka bisa jadi menyapihnya baru berhasil dengan cepat atau lama sampai masuk usia 3 tahun tidak mengapa tergantung keinginan anak. Maka disini kami mengkombinasikan antara wwl dengan sentuhan dialog keimanan.

Bedanya adalah dalam memaknai kata cinta"love", jika kebanyakan wwl cinta yang dimaksud adalah membiarkan anak menyusu sesukanya, itu bukan cinta, tapi pemanjaan namanya. Tapi dalam metode dialog keimanan ini, cinta dimaknai dengan berbeda, penyapihan menjadi momen pertama untuk mendialogkan tentang keimanan.


Dialog disini tidak harus selalu kata atau kalimat, tapi tindakan kita adalah bentuk pengajaran iman bagi anak melalui Qudwa (keteladanan). Contoh dialognya adalah sebagai berikut, "Nak, ibu menyusuimu karena Allah yang perintahkan, dan juga karena perintahNya, saat 2 tahun nanti kita sama-sama menyelesaikannya." ini bisa kita sounding sebelum anak kita berusia dua tahun. Bisa dilakukan mulai dua bulan sebelum anak kita memasuki usia 2 tahun, tepatnya di usia 22 bulan, dan mulai di usia ini pula intensitas menyusui harus mulai dikurangi secara bertahap untuk pembiasaan awal.

Saat tepat usia 2 tahun kembali disampaikan misal dengan kalimat, "salman sudah 2 tahun, Allah perintahkan untuk menyapih salman jadi sudah tidak boleh nenen lagi". setelah jeda baru saya peluk sambil billang "Bunda sayang salman", Dan setiap kali berbicara usahakan maksimal 15 kata karena ini jumlah maksimal kata yang bisa diserap balita dalam sekali bicara.

Bertemu dan berpisah karena Allah disitulah poinnya, poin utama dalam memaknai cinta. Menyusuh karena Allah dan Menyapih pun karena perintah Allah. Maka pembelajaran pertama anak untuk berpisah dari hal yang dicintainya, landasannya semata karena kecintaan pada Allah. Allah tidak melarang penyusuan lebih dari 2 tahun, tapi menghentikan penyusuan karena Allah akan mengajarkan anak bahwa kecintaan pada apapun tidak bisa dibenturkan dengan kecintaan padaNya.

Poin-poin penting lain yang perlu diperhatikan dalam menyapih antara lain:

1. Niat
Setiap amalan tergantung dr niat, maka niatkan ini karena Allah, karena menyapih adalah perintah Allah.

2.Tekad yang kuat
Sudah bukan rahasia lagi kalau menyusui adalah momen paling romantis bagi ibu dan anak, maka dalam proses menyapih ini pasti akan ada drama-drama yg membuat kita maju mundur dalam menyapih.

3. Dukungan dari suami
Bisa dibilang menyapih ini tidak mudah, jadi dukungan suami akan terasa sangat meringankan prosesmenyapih ini, karena pastinya kegalauan akan melanda pada ibu dan anak saat proses ini. Tidak hanya dukungan secara emosional. Namun dukungan secara nyata dalam bentuk tindakan akan sangat membantu keberhasilan menyapih. Misal saat begadang malam bisa dilakukan bergantian, ayah memabntu berdialog ke anak, melakukan pengalihan saat anak ingin menetek pada ibunya, dan bentuk dukungan lainnya.

4. Sounding ke anak
Ini proses yang harus dilakukan secara kontinue, dimulai sebelum usia anak 2 tahun, akan lebih baik dilakukan 2 bulan sebelumnya.

5. Komitmen dan sabar
Patuhi komitmen yang dibuat dan disepakati. Dan sediakan kesabaran yang berlapis-lapis, karena proses ini akan cukup menjadi drama yang emengaduk emosi.

6. Tega
Ini proses mendidik anak, jdi kalau kita sendiri masih maju mundur, mencla mencle. bagaimana nanti dengan tantangan pengasuhan yg lain?. Karena menyapih adalah proses negosiasi dan penanaman kemandirian pertama untuk anak.

7. Segera mulai sekarang dan banyak berdoa serta menyandarkan semua pada Allah.


Itulah tadi sedikit tulisan tentang menyusui anak dalam agama Islam. Semoga bermanfaat.

02 Juli

Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar

Makna Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar- Diantara momentum yang berharga di bulan Ramadhan adalah malam nuzulul qur’an dan lailatul Qadar. Keduanya merupakan ruang bersejarah yang menentukan kehidupan dunia selanjutnya. Karena keduanya berhubungan langsung dengan proses turunnya al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup umat manusia. Akan tetapi seringkali disalah fahami keterangan antara nuzulul qur’an dan lailatul qadar, bahkan saling tumpang tindih antar keduanya, sehingga perlu diuraikan lebih jelas. 
 
 
Istilah nuzulul qur’an yang sering diperingati pada malam tanggal 17 Ramadhan merupakan malam di mana pertama kali al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah saw di Gua Hira melalui malaikat Jibril. Pada kesempatan pertama kali ini Malaikat Jibril membawa surat iqra’ wa rabbukal akram. Kemudian untuk selanjutnya al-Qur’an diturunkan secara berangsur.

Sedangkan term lailatul qadar adalah istilah yang digunakan untuk memperingati malam di mana al-Qur’an diturunkan langsung dari Allah swt secara keseluruhan baitul izzah (semacam ruang ilahiyah) yang kemudian dibawa jibril secara berangsur kepada Rasulullah saw. Oleh karena itulah malam laylatul qadar  hanya Allah swt yang mengetahuinya. Sungguh malam itu adalah malam mulia, malam penuh berkah yang tidak boleh diragukan lagi. Karena Allah swt sendiri mengungkapkan dalam surat ad-Dukhan ayat 3:

  إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا 
 (Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi)


فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ad-dukhaan-ayat-1Sesungguhnya Kami menurunkannya pada

Ada apa dengan Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar

Malam yang berkah itu tentunya berbeda dengan malam-malam lain. Allah swt mengistimewakan nilai malam ini lebih dari malam seribu bulan. Karena pada malam itu Malaikat turun ke bumi mengatur segala urusan. Sesuai dengan perintah-Nya mereka, para malaikat akan menetapkan berbagai takdir manusia mulai dari rizki, mati, jodoh dan semuanya.

Karena itulah dinamakan lailatul Qadar, malam penentuan taqdir manusia. Sudah selayaknya kita sebagai hamba yang menginginkan taqdir baik, apabila menekuk lutut bersimpuh di malam-malam itu, karena ini berhubungan dengan nasib kita sebagai hamba. Seperti seorang budak yang memohon kepada majikannya.

Allah mengkhususkan keterangn ini dalam satu surat penuh, surat al-Qadar:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ  وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ   تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ   سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Sumber:http://nu.or.id 
 
 
Artikel lainnya: Malaikat Menjadi Awan